Drama Korea (Reply 1988) ternyata…

artis korea saya ^^
artis korea saya

Drama Korea
Ketika orang-orang pada sibuk ber ‘ annyeong haseyo’, saya masih adem ayem. Ketika para emak ramai bercerita tontonannya, saya pun masih kalem. Sampai suatu ketika…
Tak sengaja hari itu sebuah judul drama korea terlihat di beranda facebook. Reply 1988, judul yang menarik. “Apakah ini kisah di era tahun 80an?”, pertanyaan yang ada di dalam benak saya. Sebagai angkatan 80 rasa penasaran hinggaplah sudah. Saya pun tergerak untuk menonton online.
Rupanya Hida, kawan saya punya versi downloadnya, lengkap 20 episode. Saya pun dengan senang hati mengcopy dan menontonnya perlahan. Ini kali pertama bagi saya nonton drakor. Serius pula mengikuti setiap episodenya. Perasaan saya? Gonjang-ganjing dan baper dibuatnya.
Apakah setiap drakor begini? Saya seperti terbawa kedalam layar monitor selama satu setengah jam per episode. Merasa berperan sebagai aktor eh aktris disana. Ikut tertawa, menangis, kesal, gundah gulana…(oo maaak!!) Begadang pun dijabanin dengan alasan ‘nanggung’ (sampai dipelototin suami..duh!)

Mengintip Sinopsis
Reply 1988 memang mengajak saya bernostalgia ke masa kecil. Ingat berapa persen (ramalan) cinta kita dihitung dari abjad nama kita dan si dia?. Haha ngakak sendiri lihat Duk Seong melakoni ini. Ada lagi adegan Bapaknya Jung Hwan yang (maksud hati) memperbaiki setrikaan namun malah memotong kabelnya hingga kependekan.
Drama Korea yang satu ini juga menampilkan persahabatan yang erat (dan seluk beluk perasaan di dalamnya), cinta keluarga, dan kasih sayang pada tetangga. Setting makan bersama mendominasi cerita. Betapa waktu makan menjadi agenda penting yang tak boleh terlewatkan oleh keluarga.
Saya diajak main tebak-tebakan. Awalnya mengira Duk Seong akan jadian sama Sun Wo, si anak baik. Kemudian tebakan berubah ke Jung Hwan. Saya tak respect lagi sama Sun Wo ketika ternyata menyukai Bo Ra (haha emang penting?). Lewat ¾ episode, tebak-tebakan semakin memanas apakah Jung Hwan atau Choi Taek yang menjadi suami Duk Seong. Tentu saja saya pendukung Jung Hwan. Seorang yang dingin di luar tapi lembut di dalam (apa sih). Maksudnya pura-pura gak perhatian tapi diam-diam sangat ngarep dan peduli, tsaah… Tetapi si penulis cerita nampaknya ‘agak maksa’ untuk menjodohkan Duk Seong sama Taek. Semangat mulai menurun di episode 17. Bahkan episode terakhir tak lagi berminat menonton hingga hari ini. Kecewa saya, pemirsa. Sungguh.

Ambil Positifnya
Dari gonjang-ganjing perasaan saya, beberapa hal di Reply 1988 yang bisa diambil sebagai pelajaran bagi saya justru kehidupan bertetangga yang digambarkan. Saling memahami, saling bantu dan berbagi juga saling menyayangi. Istilahnya tetangga makan ini kita pun makan. Kita makan itu, tetangga pun makan.
Dan seperti yang tadi saya bilang, waktu makan bersama keluarga begitu berharga. Selanjutnya obrolan-obrolan (bahkan berantem) pun mengalir disana.

Catatan (buat saya)
Segreget apapun, drakor adalah rangkaian cerita yang dibuat penulisnya. Mungkin iya bisa benar terjadi atau benar didramatisir. Duhai Ita, sadarlah! Bangun dan pandanglah kehidupanmu sendiri. Banyak yang harus disyukuri. Hati-hati dengan ‘berandai-andai’ ya.
Hanya diri yang bisa mengerem rasa penasaran, rasa kecewa atau bahagia yang terlalu. Jangan berlebihan, selow aja^^. Nikmati setiap episode perjalanan hidup kita, biar berakhir bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s