ku memanggilnya ‘bapak’

Laki-laki dewasa itu seorang petani,
pekerja keras, bertanggungjawab,
dan mandiri.
ku memanggilnya bapak.

sewaktu ku kecil,
digendongnya ku ke sawah.
bermain di selokan, mencari ‘tutut’,
sampai ikut bergelantung di timbangan padi.
ku memanggilnya bapak.

pabila ada saat ke kota,
tak lupa dibelinya satu plastik
anggur atau telur puyuh,
bahkan pindang tongkol kesukaanku.
taukah, ku memanggilnya bapak.

tiba aku sekolah,
ku diantarnya berkeliling
mencari keranjang tahu, atribut ospek ku dulu.
senang hati dibuatnya. tak lelah tak menyerah,
dan ku memanggilnya bapak.

tiba aku kuliah,
jauh dari rumah.
namun, saat tiba ku wisuda.
ku lihat wajah sumringah di wajahnya.
aku memanggilnya bapak.

ketika surat cpns ku terima,
ku menjauh ke luar pulau.
meski hanya baju koko yang kukirim,
ku yakin matanya berkaca-kaca.
duhai, aku memanggilnya bapak.

dan aku pun menikah,
dipesannya satu keinginan pada suamiku:
‘bapak, segera ingin buyut.’
ku masih memanggilnya bapak.

suatu hari aku pulang,
membawa buyut kesayangan.
bapak senang, mereka riang.
aku, adikku, orangtuaku, emakku, bibiku,…
memanggilnya bapak.

ya, laki-laki itu kakekku.
namun ku memanggilnya bapak.

hari ini ku merindu
rindu lantunan adzan dari suaramu…
bapak……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s