kang SALMAN

on

Dari buku ‘Jalan Cinta Para Pejuang’ nya Salim A. Fillah hal.185-187 tentang Sergapan Rasa Memiliki.
-wajib punya (“,)-

Salman al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.Pilihan menurut akal sehat.Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun,ia merasa asing disini.Madinah bukanlah tempat kelahirannya.Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa.Madinah memiliki adat, rasa bahasa dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya.Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang.Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khitbah.Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya,Abud Darda’.

‘Subhanallah,wal hamdulillah..’’,girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan.Maka setelah persiapan dirasa cukup,beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah.Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

“Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia.Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya.Dia memiliki kedudukan yang utama disisi Rasulullah saw,sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli baitnya.Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya:,fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

“Adalah kehormatan besar bagi kami”,ucap  tuan rumah.  “Menerima Anda berdua,shahabat Rasulullah yang mulia.Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama.Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”Tuan rumah member isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

“Maafkan kami atas keterusterangan ini.”kata suara lembut itu.Ternyata sang Ibu yang bicara mewakili puterinya.”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis,sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya.itu yang mengejutkan dan ironis.Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan;reaksi Salman.Bayangkan sebuah perasaan,dimana cinta dan persaudaraan bergejolak  berebut tempat dalam hati.Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran;bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.Mari kita dengar ia bicara.

‘Allohu Akbar!”,seru Salman,”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian.”

——

bagaimana,ada komen?
kalo saya di tempat salman, apakah akan seperti itu?
hmmm boro2 jadi saksi kali ya,gendok yang ada.he.
dari ikhlas hingga itsar…..luarrrr biassssaaa.

itulah, betapa cinta tak harus memiliki. apalagi manusia yang hanya dipinjamkan orang,benda, pun segala sesuatu yang very very sangat kita sayangi. karena kita hanyalah hamba.
ya hanya ciptaanNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s