OPAK vs RANGINANG

on

(sing)
“Iring iring iring numpak sado di Tarogong
Gilindingna muter kawas opak jeung ranginang”

Ntah bener apa kagak ya liriknya macem itu, yang pasti kali ini kita nggak ngomongin itu, yang mo kita bahas adalah “opak” dan “ranginang”. Apaan tuh?
Yups, opak dan ranginang adalah sejenis penganan alias makanan ringan berbentuk lingkaran yang terbuat dari beras ketan. Jenis penganan ini dapat ditemukan di daerah tatar Sunda. Selain untuk jamuan di waktu ada hajatan (baca: pesta), opak dan ranginang juga menjadi cemilan di rumah tangga sehari-harinya. Di rumah, emak (panggilanku pada nenek) sering membuatnya dengan bahan dan cara yang sederhana. Berikut kronologisnya, sayang masih tanpa photo asli karena alasan ‘belum ngeh’ waktu sering bikin opak dan ranginang di kampung sana.

Untuk opak, emak biasanya menggunakan beras ketan, parutan kelapa, garam dan sedikit apu (kapur barus). Beras ketan yang sudah direndam ditanak hingga menjadi nasi ketan. Nasi ketan tersebut selanjutnya dicampur dengan parutan kelapa kemudian ditutu (dialu/ditumbuk) hingga halus sembari ditambah air apu dan garam. Sebutlah hasilnya dinamakan ‘ganyel’.
Ganyel yang lengket ini kemudian dibuat bulat-bulat kecil dengan diameter sekitar 2 cm. Nah, dari bulatan ganyel ini dibuat lagi menjadi lingkaran tipis merata sesuai ukuran yang diinginkan. Emak sih dulu memakai gilingan dari paralon yang dibungkus plastik, namun seiring berjalannya waktu digunakanlah piring yang dasarnya rata. Cara membagi ganyel menjadi buletan pun tidak lagi dibuat panjang dulu trus dipotong2 pake tangan, tetapi sekarang dihamparkan dengan ketebalan tertentu dan diambil dengan menggunakan tutup botol sirup. Biar praktis dan cepat katanya.

Baru deh lingkaran demi lingkaran opak yang telah dibuat di plastik yang diolesi sedikit minyak goreng itu ditempel ke “ayakan” besar untuk kemudian dijemur. Teknik menempelnya dimulai dari tengah kemudian melingkar ke pinggir ayakan yang tengkurep. Setelah dijemur, opak menjadi kering dan biasanya copot sendiri dari ayakan. Opak kering ini masih mentah dan siap untuk diproses lebih lanjut sesuai selera. Biasanya memang yang namanya opak ini dipanggang diatas arang atau di hawu, namun bisa juga sih digoreng tergantung keperluan dan keinginan.

Sedikit berbeda dengan opak, meskipun dibuat dari bahan yang sama yakni beras ketan, ranginang memiliki fisik yang berbeda dengan opak. Rasanya hampir mirip, bentuknya pun lingkaran juga bukan bujursangkar atau persegi panjang. Tau gak bedanya apa?
Ya, ranginang tidak dialu atau ditumbuk menjadi halus melainkan masih dalam butiran nasi ketan. Beras ketan yang ditanak, sebelumnya sudah dibumbui dengan garam dan terasi. Jadi ketika matang, nasi ketan menjadi berwarna kemerahan dan harum terasi. Nasi ketan tersebut dalam keadaan masih panas kemudian dicetak dengan menggunakan cetakan khusus yang terbuat dari belahan bambu atau plastik yang berbentuk lingkaran. Selanjutnya diletakan di atas ayakan dalam keadaan terbalik (berbeda dengan posisi ayakan untuk opak) dan siap dijemur. Ranginang kering ini masih mentah dan harus digoreng terlebih dahulu untuk bisa dimakan. Beda lagi kan dengan opak yang dipanggang.:)

Kerenyahan opak dan ranginang dipengaruhi juga dengan cuaca dan sinar matahari saat di jemur. Hujan dan mendung biasanya membuat opak dan ranginang mentah kering lebih lama sehingga saat penggorengan tidak mengembang. ‘Teu beukah’ dalam bahasa sunda nya.
Khusus untuk hajatan biasanya opak dan ranginang dibuat ukuran besar, 3-5 kali lipat ukuran biasa dan diwarnai dengan pewarna hijau, merah atau kuning.

Oya, tetangga sebelah pada ikut ngumpul membantu ketika tau ada yang “ngopak” (membuat opak) apalagi dalam jumlah banyak. Walaupun kadang keluar juga obrolan-obrolan macam sinetron atau isu bahkan berita yang lagi hot. Namun inilah salah satu yang memperat hubungan bertetangga diantara mereka. Selesai ngopak, yang punya rumah nyediain makan lengkap lauk pauk, lalapan ma sambel pedas. Kadang tetangga pun ikut ngambil apa yang ada di rumahnya dan berkumpul ‘bancakan’ dengan ramainya. Seruuu deh ditambah anak-anak yang ikut nimbrung pengen ini pengen itu..Nah, itulah kisah opak dan ranginang di suatu hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s