hidup dengan pilihan

Pernah merasa pusing dengan pilihan dan pilihan?
Pernah merasa bingung menetapkan satu pilihan?
Hanya satu pilihan.

Pernah, bahkan mungkin sering. Karena ternyata pilihan dan pilihan tak bisa lepas dari kehidupan kita. Dari tapak yang selama ini kita arungi dalam mencapai titik akhir perjalanan kita.
Setiap saat kita belajar untuk memilih dan menerima segala sesuatu dari pilihan-pilihan yang kita putuskan. Mau pergi atau tidak, perlu dandan atau tidak, hendak berkata atau diam saja, harus ke kiri atau ke kanan, butuh makan ini atau itu, ini itu, dan ini itu lainnya.

Alasan.
Tentunya ada bermacam alasan dibalik pilihan yang kita ambil. Apakah itu alasan sebab atau alasan akibat. Alasan sebab jika kita mengambil pilihan itu karena titik-titik atau sebab titik-titik. Sedangkan alasan akibat jika kita mengambil pilihan itu dengan alasan untuk anu, agar anu, dsb. Namun, tak menutup kemungkinan juga jika ada double alasan, seperti saya memilih kuliah di jurusan kehutanan karena saya suka naik gunung dan agar nanti bisa kerja di bidang kehutanan. Saya memilih lipstik yang warna ungu biar tambah disayang suami saya karena suami saya suka apabila saya memakai lipstik berwarna ungu.^^.

Konsekuensi.
Mengambil pilihan adalah menerima konsekuensi. Oleh karenanya, sebelum menentukan pilihan, ada baiknya membayangkan, menebak, mengira-ngira lebih jauh lagi pandangan ke depan konsekuensi yang akan kita dapatkan nanti. Kadang opportunity cost sering juga jadi pertimbangan dalam memilih, yaitu ketika menentukan pilihan dengan menyertakan pengorbanan.
Misal, saya memilih nikah dengan si A dengan mengorbankan pekerjaan saya karena si A tidak ingin saya bekerja. Saya memilih makan siomay dengan tidak makan batagor (padahal pengen) karena uangnya memang hanya cukup untuk membeli 1 dari jenis makanan itu.^^.

Penyesalan.
Tak selamanya pilihan yang kita ambil mendatangkan kebahagiaan langsung saat itu. Tak sedikit juga yang menyesal dengan keputusan atas pilihan yang diambil. Ya, penyesalan memang selalu di akhir tetapi tidaklah perlu bersedih dan berjibaku dengan penyesalan karena itu jugalah yang memberikan kita pelajaran, hikmah dan ilmu yang berharga untuk kita berjalan lagi ke depan.

Menjadi baik adalah pilihan,
Bermanfaat adalah pilihan,
Menulis adalah pilihan,
Marah adalah pilihan,
Dst.
Dan hidup adalah pilihan.

(Ingat dulu waktu paskibra:
Tak takut salah
Tak takut kalah
Tak takut jatuh
Tak takut mati
Takut mati jangan hidup
Takut hidup: mati sekalian)

Berdoa dan berharap, semoga Allah yang Maha Pengasih senantiasa memberi petunjuk jalan terbaik yang kudu kita tempuh.

(30/5/2011)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s