hati

Keruh
Membusuk dalam jeruji
Terpuruk meratap dalam tepian
Sirna. Luka. Sedunia.

Gelombang tak tertikam
Memuncak dalam genggaman
Kelam
Terdampar dalam ketidakberdayaan.

Satu yang berarti
Satu yang teruji
Satu dalam palung diri.

Tak bersih, akan tersisih
Tak sehat, terasa berat
Tak terjaga, tentram jiwa tak lagi terasa
Berkarat, tak terawat

Benteng nan kokoh
Tameng nan tangguh
Perisai desiran ombak bersahutan

Kecil tapi besar
Mungil dan mengakar
Izinkan diri saling merasakan

Pabila datang ujian
Godaan tak tertahankan
Mampukah ia bertahan
Di tengah riak kehidupan.

Kembali dalam ketenangan
Membuka cakrawala di ufuk sana
Benderang lewati jendela
Seiring hati yang terjaga

(getas’04)

puisi ini dibuat di tengah hiruk pikuk teman-teman yang sibuk bikin laporan. juga di antara pohon Tectona grandis yang menjulang gagah meraja. Getas dengan bejibun kenangan yang telah terukir disana: tak terlupa.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. astrid berkata:

    nice… like it!

    1. tea berkata:

      tengkiu,astrid. masih belajar.
      salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s